Senin, 30 Juni 2008

mengaca diri sendiri



Sesungguhnya desah nafas telah dihitung, jumlah detik telah ditetapkan, kian hari sisa nafat kian berkurang, detik pun kian hbis. sebod0h-bodoh diantara manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia. demi Allah kian hari kian dekat dengan sat perpisahan, namun perhitungan akan teramat berat, hisab akan menjadi nyata.

saudaraku pernah kita berpikir bahwa dengan bertambahnya umur, berarti kita telah mendekati kontrak kematian masing-masing? akan teapi kebanyakan dari kita tidak merasa dan tidak bersadr akan hal ini. suatu bukti, tahun baru kemarin masih banyak kita gunakan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang, berpesta pora. padahal yang seharusnya kita lakukan adalah berkaca diri dan introswpeksi diri, bertambahnya kebaikan dalam diri kita di tahun ini, ataukah sebaliknya????

Senin, 16 Juni 2008

Manusia Yang Bagaimana ??????

ada segerombolan manusia
yg haus akan segala
merasa segala
berpikir akan segala
ingin segala

namun yg dilakukan hanya bicara
sambil bergerombol
hiruk pikuk
terbata-bata
penuh dusta

yg terlihat hanyalah segerombol mahluk
yg terkuak kebodohannya
tersingkap kebusukannya
tercium kemunafikannya
terdengar kebohongannya

namun apa daya
gerombolan tadi masih saja bicara
tanpa akalnya
apalagi hatinya
ketidakberdayaannya ia anggap jasa
kemuakan manusia ia anggap cinta

Selamat atas penyewaan hutan oleh pemerintah

Apakah hutan indonesia yang selama ini memang untuk di persewakan
dengan nilai yang begitu rendah per tahun nya.


 Dengan jas merah panjang, mata tertutup sebelah seperti bajak laut dan topi
 kerucut, seorang aktivis ETC (www.etcgroup. org), Jim Thomas, memainkan peran
 sebagai bajak laut, "Kapten Hook."


Dengan bergaya bak seorang perompak samudra, Jim kemudian mengumumkan
penghargaan kepada beberapa organisasi dan lembaga yang dianggap telah
melakukan atau mendorong pencurian sumber daya genetik (biopiracy).
 
Aksi tersebut dilakukan di tengah Hotel Maritim, Bonn,
Rabu (21 Mei) sekitar pukul satu siang waktu setempat. Ketika para
delegasi baru sedang jeda makan siang setelah memulai perundingan dalam
Pertemuan Para Pihak (COP- Conference of Parties ) ke-9 Konvensi Keragaman
Hayati (KKH) di Bonn, Jerman.

Aksi
tersebut telah menarik perhatian para delegasi. Saat itu, kelompok
kerja dua baru memulai pembicaraan mengenai pembahasan pasal 8j
mengenai hak-hak masyarakat local dan akses serta pembagian keuntungan.

Pencurian
sumber daya genetik dan pengetahuan lokal dari masyarakat dalam hal ini
digunakan untuk berbagai kepentingan tanpa memberitahu, tanpa
Perjanjian yang disepakati dan tanpa pembagian manfaaat dengan
masyarakat pemilik pengetahuan.

KKH
yang merupakan konvensi PBB, bertujuan untuk melakukan konservasi,
pemanfaatan secara berkelanjutan dan pembagian keuntungan yang adil
dari penggunaan keragaman hayati. Konvensi tersebut diratifikasi oleh
191 negara, dan disahkan pada Konferensi Tingkat Tinggi Rio pada tahun
1992 di Brazil.

Tetapi
setelah lebih dari 15 tahun, pencapaian tujuan ketiga, memastikan
adanya pembagian keuntungan, masih jauh dari harapan (lihat mengenai
sidang ABS).

Dalam aksi tersebut, aktivis ETC memberikan sejumlah penghargaan dengan
berbagai kriteria. Kriteria untuk Pengguna Dana Publik Terburuk atau Worst
Use of Public Funds jatuh pada Proyek Uni Erupa untuk Transcontainer.
Ini merupakan proyek yang menggunakan dana publik dengan nominal 5,38
juta Euro untuk penelitian mengenai Steriliasi Genetika Benih, yang
menghasilkan benih-benih terminator dan mengklaim akan memperkuat
keamanan hayati. Menurut Kapten Hook, proyek ini akan
mengembangkan Zombie yang mewajibkan petani untuk membeli bahan-bahan
kimia untuk mengembalikan kesuburan benih-benih tanaman di setiap musim
 tanam.
Pengkhianat Terburuk
Penghargaan untuk 'Pengkhianat Terburuk Kepercayaan Publik" atau Worst
Betrayal of Global Public Trust diberikan kepada Rumah Sakit Anak St. Jude
di Memphis, Tennessee dan Badan PBB untuk Kesehatan atau WHO. Penghargaan
diberikan karena Juri Kapten Hook menganggap bahwa WHO telah menciderai
kepercayaan publik dalam kasus
penelitian dan paten atas penelitian untuk virus flu. Rumah Sakit Anak
St. Jude mendapatkan gen virus flu dari Laboratorium Kolaborasi WHO,
dimana setiap negara yang warganya mengalami serangan virus flu
mengrimkan sampel virus ke laboratorium kolaborasi tersebut di bawah
sistem Global Influenza Surveillance Network (GISN) WHO.
Rumah
St. Jude kemudian meperoleh virus dari laboratorium tersebut lalu
 melakukan penelitian dan mematenkan salah satu virus tersebut.
Sedangkan WHO tidak melakukan apapun untuk mencegah paten tersebut dan
juga oleh perusahaan lain, yang memonopoli dengan mematenkan dan
mengkomersialisasik annya.
Penghargaan
dengan kriteria lainnya juga diberikan kepada beberapa perusahaan
seperti D1 Oils yang berbasis di Inggris. Perusahaan ini mendapatkan 18
varietas tanaman jathropha dengan kandungan minyak tinggi dan tahan
kering, yang dikembangkan di Universitas Indira Ghandi, Raipur, India. Salah
satu staf diduga telah membawa 18 tanaman tersebut dan kemudian menjadi
salah seorang pejabat di perusahaan D1 Oils. Saat ini perusahaan minyak
nabati tersebut bermitra dengan BP (British Petroleum) dengan
menanamkan 160 juta dollar dalam memperoduksi minyak jatropha untuk
bahan bakar nabati.
Perusahaan lainnya yang juga mendapatkan gelar dari penghargaan Kapten Hook
adalah Syntethic Genomics Inc. karena telah 'menciptakan' spesies
bakteri baru dari hasil rekayasa genetik atau transgenik "Synthia".
Sebuah lembaga penelitian Publik Research and Regulation Initiative,
juga diganjar penghargaan karena telah membantu kepentingan perusahaan
bioteknologi dengan penelitian dengan dana publik. Seperti manfaat
pohon transgenik: bibit terminator, jadi dimana manfaat untuk publik?
HopeShand, dari ETC Group mengatakan bahwa ironisnya, para penerima
penghargaan karena melakukan pencurian sumber daya genetik di Bonn ini,
tidak melakukan pelanggaran hukum. Masalahnya kata Shand, regim
hak atas kekayaan intelektual secara hukum mengesahkan adanya paten dan
aktivitas yang melanggar kedaulatan masyarakat lokal atas sumber daya
genetik.

"Sejauh ini, KKH telah gagal menyediakan mekanisme yang efektif untuk mengatasi pencurian sumber daya genetik," kata Hope Shand. 
> Informasi selengkapnya dalam www.captainhookawar ds.org

> Sumber: http://www.beritabu mi.or.id/ ?g=beritadtl& newsID=B0074& ikey=1

Rabu, 11 Juni 2008

Syair

Ilahi aku bermohon kepadamu Jagalah aku sehingga aku tidak menentang-Mu Ya allah, sungguh aku bingung dan ketakutan Karena banyaknya dosa dan kemaksiatan Bersamaan dengan banyaknya karunia dan kebaikan-Mu Ya allah, ya illahi, lidahku keluh karena banyaknya dosa Telah hilang wibawa wajahku Bahkan dengan wajah yang mana aku harus menghadap-Mu? Setelah dosa² membuat wajahku muram Dengan lidah yang mana ya allah aku harus menyeru-Mu? Setelah makasiat membuat lidahku bungkam Bagaiman aku harus menyeru-Mu? padahal aku adalah pendosa Bagaimana aku tidak menyeru-Mu? padahal engkau pemberi karunia Ilahi, aku malu menyeru-MU Karena aku mengulang-ulang dosa dan maksiat kepada-Mu Bagaimana mungkin seorang hamba tidak menyeru junjungannya Kemana ia akan berlari dan berlindung? Jika Engkau mengusirnya Ilahi, kepada siapa aku akan berlindung Jika kau tidak tegakkan aku dari ketergelinciranku Siapa yang akan mengasihiku? jika engkau tidak mengasihiku Siapa yang akan menyambutku? jika engkau tidak menyambutku Kemana hendak berlari? jika harapanku terhempas dari sisi-Mu ya Allah *****************************************************************
Illahi, aku berada dalam cemas dan harap Kecemasanku pada-Mu mematikan aku Dan harapanku pada-Mu menghidupan aku Ilahi dosa² adalah sifatku sedangkan maaf adalah sifat-Mu Wahai Dia yang menjawab bila ada seruan Wahai Dia yang dengan keagungan-Nya Menebar awan kesejukan karunia-Nya Ya Allah Engkaulah yang mengatakan : Siapa yang menyeruku tidak kujawab? Siapa yang meminta kepadaku yang tidak kuberi? Siapa yang berdiri didepan pintu-Ku yang tidak kusambut? Ya Allah, Ya Ilahi Kini aku datang menghadap-Mu Berdiri didepan pintu keagungan-Mu Dengan rasa malu, merunduk dan bersimpuh dihadapan-Mu Ya ilahi aku bermohon pada-Mu Sampaikan sholawat kepada Rasulullah dan keluarganya Tolonglah aku dan bantulah aku Hilangkan kecemasanku dan kekhawatiranku Mudahkan segala kesulitan yang kutakutkan Singkirkan segala bala’ dan bahaya yang kucemaskan Ya ilahi, ya robbal ‘alamin **********************************************************************
Ilahi, Tuhanku Hatiku penuh hijab dan jiwaku penuh noda Akalku terkalahkan dan hawa nafsuku mengalahkan Ketaatanku sedikit dan maksiatku banyak Sedangkan lisanku mengakui dosa² ku Bagaimana dengan dayaku Wahai yang maha menutupi segala aib Duhai yang maha mengetahui segala yang gaib Duhai yang maha menghilangkan segala duka dan derita Ampuni dosa² ku Dengan kemuliaan Muhammad dan keluarga Muhammad Ya ghaffar….. ya ghaffar….. Wahai yang maha pengampun Dengan rahmat-Mu Wahai yang maha pengasih dari segala yang mengasihi

Mahasiswa Bicara

Setiap kali kita melangkah dalam kehidupan percaturan didunia pendidikan, maka tak henti-hentinya kita sebagai pelajar di sekolahan maupun di dunia kampus termimpi di benak pikiran  alangkah indahnya kalau Biaya pendidkan di gratiskan.! dan mendapatkan sebuah sarana dan prasarana yang layak?! Mungkin kata-kata di atas tadi ada yang terfikirkan di benak pikiran pelajar. akan tetapi sampai saat ini dan detik ini carut marutnya dunia pendidikan semakin memperparah dan biaya  pendidikan semakin tinggi.

buat apa ada UUD 45, kalau biaya pendidikan semakin tinggi dan memperuncing tombak untuk menusuk kaum terlantar dan tidak mendapatkan kehiudpan yang layak serta tidak mendapatkan pendidikan yang mutlak.

DIsini kami bicara adil dan mencela bagi para pejabat atau para akademisi di pusat maupun di daerah agar seyogyanya memikirkan para kaum terlantar dan orang miskin yang tidak bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi untuk di beri sebuah sarana dan prasrana yang ada. jangan seenaknya sendiri ?!!!!!!!

Pendidikan di indonesia sangat tidak memuaskan dan sangat tidak adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiilll.. apakah ini kegoblokan rakyatnya ataukah GOBLOKNYA pemerintahan kita sendiri?!!! yang haus dengan harta dan kemaksiatan... camkan itu ! jangan seenaknya sendiri

PERSOALAN mahalnya pendidikan belakangan ini kembali mencuat ke permukaan. Hal ini menjadi ironis mengingat sebelumnya berbagai janji politik para pejabat dan politikus saat kampanye untuk menyediakan pendidikan murah (bahkan gratis) banyak dilontarkan. Tampaknya, janji tersebut sejauh ini hanya jargon dan omong kosong belaka. Ribuan rakyat miskin yang hampir “sekarat” di tengah impitan hidup masih terbebani mahalnya biaya pendidikan bagi anak-anak mereka.

AWALNYA, kita masih berharap pada niat baik pemerintah menaikkan anggaran pendidikan dan merealisasikanya. Namun, semua itu tinggal kebijakan yang hanya ditulis di kertas dan kemudian disimpan di laci atau tidak malah telah hilang entah kemana.

Jika memang pendidikan didanai 20% dari APBN, semestinya sektor pendidikan memperoleh anggaran sebesar Rp 20 triliun dari total APBN sebesar Rp 300 triliun. Kenyataannya, dana untuk sektor pendidikan hanya berkisar Rp 13, 6 triliun atau sekitar 4% dari APBN. Sebuah jumlah yang sangat jauh dari ideal untuk sebuah negeri dengan 220 juta jiwa dan 17.079.220 orang atau 7, 7% d iantaranya tidak bisa baca tulis. Maka, sekali lagi janji politik yang sering diberikan cenderung hanya untuk menipu rakyat. Dan, dalam hal ini, lagi-lagi yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang merupakan bagian terbesar penduduk negeri ini.

Kalau selama ini dikatakan pendidikan adalah investasi masa depan, tolak ukur kemajuan sebuah bangsa, dan petunjuk kemana peradaban akan dibawa, hal tersebut tentu tidak ada yang menyangsikan. Akan tetapi, persoalan tidak berhenti sampai di situ.

Ada sesuatu yang memang tidak adil sejak awal. Kompetisi (dalam dunia pendidikan) yang terjadi saat ini adalah kompetisi yang memang menguntungkan kalangan berlatar belakang ekonomi kaya. Sementara orang miskin, energi mereka telah terkuras habis berhadapan dengan ketidakadilan dalam segala sektor yang mereka terima.

Eko Prasetyo lewat buku ini ingin menunjukkan fakta kepada kita semua bahwa pendidikan di negeri ini telah menjadi sesuatu yang sangat mahal dan semakin tak terjangkau rakyat kecil. Lembaga pendidikan telah dijadikan ladang bisnis dan komersialkan.

***

PENULIS buku ini memberi ilustrasi sederhana yang dalami sendiri. Saat akan memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak (TK), ia disodori biaya uang pangkal yang jumlahnya sangat fantastis: Rp 2 juta! Kemudian, ditambah Rp 350.000 tiap bulan untuk biaya snack, pelajaran bermain, dan sesekali wisata ke tempat hiburan. Ia berpikir, alangkah mahalnya bayaran untuk si kecil agar ia bisa bernyanyi, berdoa, dan mengetahui ejaan (hal 2). Hal itu, tambah Eko dalam buku ini, tarnyata juga dialami tetangga-tetangganya yang harus menyediakan dana begitu besar untuk anak-anak mereka yang ingin sekolah di tengah impitan ekonomi yang kian mencekik. Ironisnya, ini terjadi mulai dari bangku TK hingga perguruan tinggi.

Celakanya, membengkaknya biaya pendidikan yang sering ditimpakan kepada para orang tua sering kali hanya digunakan untuk pembangunan fisik sekolah yang jelas bukan mandat utama pendidikan (hal 4). Dari hal itulah, penulis akhirnya berkesimpulan zaman di mana sekolah murah bisa dinikmati memang telah usai. Komersialisasi pendidikan telah meluluhlantakkan sisi-sis humanisme pendidikan dan mamutarbalikkan seluruh logika dan cita-cita awal dikembangkanya pendidikan. Telah terjadi apa yang tersebut de-humanisasi pendidikan.

Menurut penulis, yang sehari-hari bergelut dengan berbagai isu pendidikan kritis di Yogyakarta ini, terdapat banyak hal yang ikut memberi andil terhadap semakin melambungnya biaya pendidikan. Selain yang pasti karena rendahnya anggaran pendidikan, swastanisasi yang merasuki lembaga pendidikan menjadi kian “mencengangkan”. Dengan alumnus Fakultas Hukum UII ini, ada kepentingan kalangan pemodal yang menyelinap ketika mereka mendirikan sekolah. Sekolah kemudian seperti pabrik yang nanti mengeluarkan bermaca-macam makhluk mirip seperti robot (hal 27).

Swastanisasi lembaga pendidikan, bahkan dengan dasar pijakan otonomi, membuat sekolah kemudian perlu mencari penghasilan lain; penghasilan yang lagi-lagi dikutip dari orang tua siswa. Contoh sederhana adalah apa yang dialami kampus-kampus negeri di mana biaya kuliah begitu membumbung tinggi. Meski menggunakan nama beragam dalam merekrut calon mahasiswa, ujung-ujungnya tetap saja pengenaan biaya. Swastanisasi pendidikan inilah yang kemudian memicu berbagai kalangan pemegang kebijakan dalam dunia pendidikan membisniskan pendidikan. Maka, di perguruan tinggi misalnya, ditawarkanlah berbagai program pendidikan. Dari mulai diploma 1-3, S1 reguler dan ekstensi, magister kelas bisnis dan eksekutif, S3, bahkan membuka pelatihan. Semuanya itu hanya bertujuan untuk menggali dana sebanyak-banyaknya tanpa pernah mempersoalkan dan bertanggung jawab atas lulusannya.

Hal serupa juga terjadi di tingkat lebih bawah. Fenomena maraknya TK unggulan, SD unggulan, SMP unggulan, hingga SMA unggulan yang menarik biaya sangat mahal adalah contoh sederhana betapa pendidikan tidak pernah berpihak kepada kaum miskin.

***

MENGAPA swastanisasi pendidikan terjadi sehingga akhirnya sekolah menjadi mahal? Menurut Eko, hal demikian terjadi karena negara malas mengambil peran. Anggaran pendidikan yang jauh lebih murah ketimbang anggaran pertahanan, misalnya, menunjukkan betapa penguasa tidak mamiliki kepekaan terhadap persoalan pendidikan. Pendidikan yang berulang-ulang disebutkan dalam konstitusi ternyata cuma pemanis saja (hal 29).

Padahal, dengan membuat mahal sekolah, yang terjadi adalah pendidikan akhirnya hanya penyumbang utama peningkatan populasi orang miskin. Apalagi jika dilihat keberhasilan sekolah dalam mencetuskan pengangguran, maka komplitlah tuduhan kita semua bahwa sekolah hanya akan membuat spiral kemiskinan tak berujung.

Dari berbagai hal seperti di atas, salahkah kemudian bila dikatakan sekolah ternyata hanya untuk orang kaya saja? Realitas empiris barangkali akan lebih dapat menunjukkan jawabnya. Maka, tuntutan buku ini sederhana, pendidikan wajib murah! Pendidikan mutlak harus dapat dijangkau oleh mereka yang miskin. Posisi orang miskin yang selama ini terlantar perlu dibangkitkan dan negara yang pertama kali perlu mengambil tanggung jawab. Dengan demikian, dapat dihindari komersialisasi pendidikan yang hanya berorientasi pada pengerukan keuntungan semata.

Gagasan yang dituangkan penulis dalam buku ini barangkali akan lebih tajam dan lebih komprehensif ketika kita membandingkanya dengan buku McDonaldisasi Pendidikan Tinggi yang dieditori Heru Nugroho (2002). Walaupun buku itu lebih menyoroti komersialisasi di pendidikan tinggi, tetapi analisis di dalamnya dapat digunakan untuk melihat fenomena komersialisasi pendidikan secara umum. Kombinasi di antara kedua buku tersebut kiranya dapat menyadarkan kita bahwa yang sangat dibutuhkan lembaga pendidikan masa depan adalah kembali ke jati diri dalam arti sesungguhnya, yakni tumbuhnya lembaga pendidikan yang profesional, milik publik, dan yang paling penting adalah sebagai lembaga pendidikan yang berada di negara miskin, yang karenanya harus memperjuangkan kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

SEKILAS FMIPA







FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI :
BIOLOGI (S-1 TERAKREDITASI C)


Tujuan :
Lulusan menguasai konsep sains dasar biologi, fisika, kimia dan matematika, mampu merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan aplikasi biologi untuk kesejahteraan manusia.

PROGRAM STUDI :
STATISTIKA (S-1 TERAKREDITASI C)

Tujuan :
Lulusan menguasai teori sains dasar, konsep dasar statistika mampu merancang, menganalisis dan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang diperoleh, dan mampu mengaplikasikannya dalam bidang bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi.

PROGRAM STUDI :
GEOGRAFI (S-1)

Tujuan :
Lulusan menguasai konsep dasar sains dan geografi, mampu menyajikan dan melakukan analisis informasi dalam rangka perencanaan, penggunaan, dan pengembangan tata guna lahan dengan menggunakan teknologi informasi
 

blogger templates | Make Money Online